Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 20 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Cerpen
Jumat, 07 Agustus 2026

Kursi Nomor Tujuh (Sebuah Cerpen)

Setiap pukul lima sore, lelaki tua itu datang ke stasiun dengan kemeja putih yang selalu disetrika rapi. Ia membeli secangkir teh hangat dari kios yang sama, lalu duduk di kursi nomor tujuh menghadap rel.

Tidak pernah ada yang menjemputnya.

Tidak pernah ada yang menghampirinya.

Para pedagang sudah hafal.

"Seperti biasa, Pak?"

"Iya."

"Tunggu anak?"

Lelaki itu hanya tersenyum.

Suatu sore, seorang anak kecil duduk di sampingnya.

"Kakek lagi nunggu siapa?"

Lelaki itu memandang rel yang mulai memantulkan cahaya matahari senja.

"Anak saya."

"Kerjanya jauh?"

"Iya... sangat jauh."

Anak itu mengangguk, seolah mengerti.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Lelaki itu selalu datang.

Kursi nomor tujuh seakan menjadi miliknya.

Orang-orang mulai menganggapnya bagian dari stasiun.

Suatu hari petugas stasiun baru bertanya kepada penjaga kios.

"Kenapa bapak itu setiap hari di sini?"

Penjaga kios menghela napas.

"Lima tahun lalu anaknya meninggal dalam kecelakaan kereta."

Petugas itu terdiam.

"Terus... kenapa masih datang?"

"Karena setiap hari Jumat, sebelum pulang kerja, anaknya selalu turun di peron ini."

Sore berikutnya hujan turun deras.

Untuk pertama kalinya kursi nomor tujuh kosong.

Penjaga kios merasa gelisah.

Besoknya juga kosong.

Hari ketiga tetap kosong.

Mereka mulai bertanya-tanya.

Akhirnya kabar itu datang.

Lelaki tua itu meninggal dalam tidurnya.

Seminggu kemudian, seorang perempuan muda datang membawa setangkai bunga.

Ia berdiri lama di depan kursi nomor tujuh.

Lalu meletakkan bunga itu di atas bangku.

Penjaga kios menghampirinya.

"Saudara beliau?"

Perempuan itu mengangguk.

"Saya anak angkatnya."

"Kamu tahu kenapa beliau selalu datang ke sini?"

Perempuan itu tersenyum tipis.

"Tahu."

"Beliau sebenarnya tidak menunggu anaknya pulang."

Penjaga kios mengernyit.

"Beliau datang supaya anaknya... kalau suatu hari pulang, tidak merasa sendirian."

Perempuan itu mengusap bangku yang mulai basah oleh embun pagi.

"Padahal beliau sendiri sudah tahu... anak itu tidak akan pernah turun dari kereta mana pun lagi."

Kereta melintas.

Anginnya menerbangkan beberapa kelopak bunga.

Kursi nomor tujuh kembali kosong.

Tetapi sejak hari itu, tak seorang pun berani duduk di sana.


Kursi Nomor Tujuh (Sebuah Cerpen)








NEXT:

Rp20,5 Triliun untuk 490 Pemda: Menyelamatkan Gaji ASN atau Menunda Masalah Fiskal Daerah?


PREV:

Indonesia Tidak Bisa Selamanya Bergantung pada LPG: Saatnya Melirik Adsorbed Natural Gas (ANG)

NEXT:

Rp20,5 Triliun untuk 490 Pemda: Menyelamatkan Gaji ASN atau Menunda Masalah Fiskal Daerah?


PREV:

Indonesia Tidak Bisa Selamanya Bergantung pada LPG: Saatnya Melirik Adsorbed Natural Gas (ANG)

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Cerpen :
  • ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
  • Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)
  • DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)
  • Kursi Nomor Tujuh (Sebuah Cerpen)
  • BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku
  • Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)
  • AH dan Uang Desa yang Tersesat
  • Mahasiswa UUUI Gugat Semesta
  • Bram dan Tantangan PUE
  • Terbelenggu Rindu
  • Koruptor di Ujung Tiang
  • Ketika Dunia Butuh Liburan
  • Hukuman Langit untuk Kaum Fitnah

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan