View : 92 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Cerpen
Jumat, 29 Mei 2026

Dimas duduk di bangku taman kota sambil menatap layar ponselnya yang sudah ia cek setiap tiga puluh detik.
"Minggu 31 Mei. Jam tujuh malam. Jangan telat."
Pesan dari Rara itu sudah dibacanya lebih dari lima puluh kali.
Di media sosial, semua orang sedang membicarakan fenomena langka bernama Blue Moon. Dimas yang pengetahuan astronominya setara dengan kucing yang sedang tidur, langsung bersemangat.
"Blue Moon? Berarti bulan warna biru dong."
Karena ingin terlihat pintar di depan Rara, ia menghabiskan dua jam menonton video astronomi. Sayangnya, yang ditonton malah video teori konspirasi.
Maka ketika Rara datang, Dimas langsung berkata penuh keyakinan.
"Nanti malam bulan akan berwarna biru. Jarang terjadi. Sangat langka."
Rara menatapnya.
"Serius?"
"Serius. Aku sudah riset."
"Di mana?"
"TikTok."
Rara langsung menghela napas panjang.
Mereka lalu duduk berdampingan menunggu bulan muncul di balik gedung-gedung tinggi.
Beberapa menit kemudian, bulan purnama perlahan naik.
Besar.
Indah.
Terang.
Dan...
Putih.
Dimas berkedip.
Lalu berkedip lagi.
Tetap putih.
"Mana birunya?" tanya Rara.
"Mungkin masih loading."
"Ini bulan atau aplikasi?"
Dimas mulai gugup.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Bulan tetap putih seperti biasanya.
Rara akhirnya membuka artikel dari NASA di ponselnya.
"Nah, ini dia jawabannya."
Dimas mendekat.
Rara membaca dengan suara pelan.
""Blue Moon tidak berarti Bulan berwarna biru. Istilah ini digunakan untuk menandai bulan purnama tambahan dalam periode tertentu.""
Dimas terdiam.
Harga dirinya jatuh dari orbit rendah Bumi langsung ke dasar laut.
Rara tertawa sampai matanya berair.
"Jadi selama ini kamu yakin bulan bakal biru?"
Dimas mengangguk lemah.
"Aku bahkan sudah menyiapkan filter kamera warna biru."
Rara tertawa semakin keras.
Angin malam berembus lembut.
Di sekitar mereka, banyak orang juga sedang menikmati pemandangan bulan purnama yang istimewa itu.
Meski tidak biru.
Meski tidak berbeda warna.
Tetapi tetap indah.
Rara lalu menatap langit.
"Aneh ya."
"Apa?"
"Meski namanya Blue Moon, ternyata tidak biru."
Dimas ikut menatap bulan.
"Iya."
Rara tersenyum kecil.
"Mirip cinta."
Dimas menoleh cepat.
"Maksudnya?"
"Kadang yang paling indah justru bukan yang kelihatan dari luar."
Jantung Dimas langsung berdetak lebih cepat.
Ia mencoba tetap tenang.
Walau sebenarnya di dalam kepalanya sudah ada marching band lengkap dengan drum dan trompet.
"Rara..."
"Hm?"
"Kalau Blue Moon tidak biru..."
"Iya?"
Dimas menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan.
"...berarti ada satu hal yang lebih biru."
Rara mengangkat alis.
"Apa itu?"
Dimas tersenyum.
"Cintaku yang bertahun-tahun menunggu kamu sadar."
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Rara menatapnya.
Dimas menatap Rara.
Bulan menatap mereka berdua.
Lalu...
Rara memukul lengannya.
"Dasar gombal."
"Tapi berhasil?"
Rara pura-pura berpikir.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Kamu traktir es krim dulu."
Dimas tertawa lega.
"Itu berarti ada harapan?"
Rara berdiri sambil tersenyum.
"Blue Moon saja munculnya jarang."
"Iya?"
"Tapi kesempatanmu muncul malam ini."
Dimas langsung berdiri.
"Jadi kita jadian?"
"Jangan cepat-cepat."
"Kenapa?"
"Karena aku masih mau lihat apakah cintamu benar-benar lebih biru dari Blue Moon."
Mereka pun berjalan meninggalkan taman sambil tertawa.
Di atas sana, bulan purnama bersinar terang.
Tidak biru.
Tetapi menjadi saksi bahwa kadang-kadang, hal yang paling indah bukanlah warna yang terlihat di langit.
Melainkan seseorang yang diam-diam sudah menunggu cukup lama untuk berkata,
"Aku suka kamu."
BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku
Jumat, 29 Mei 2026
BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku

Blue Moon Tak Sebiru Cintaku, ilustrasi romantis remaja Dimas dan Rara duduk di taman pada malam Blue Moon 31 Mei 2026 dengan bulan purnama besar di langit dan suasana cinta yang lucu.
Dimas duduk di bangku taman kota sambil menatap layar ponselnya yang sudah ia cek setiap tiga puluh detik.
"Minggu 31 Mei. Jam tujuh malam. Jangan telat."
Pesan dari Rara itu sudah dibacanya lebih dari lima puluh kali.
Di media sosial, semua orang sedang membicarakan fenomena langka bernama Blue Moon. Dimas yang pengetahuan astronominya setara dengan kucing yang sedang tidur, langsung bersemangat.
"Blue Moon? Berarti bulan warna biru dong."
Karena ingin terlihat pintar di depan Rara, ia menghabiskan dua jam menonton video astronomi. Sayangnya, yang ditonton malah video teori konspirasi.
Maka ketika Rara datang, Dimas langsung berkata penuh keyakinan.
"Nanti malam bulan akan berwarna biru. Jarang terjadi. Sangat langka."
Rara menatapnya.
"Serius?"
"Serius. Aku sudah riset."
"Di mana?"
"TikTok."
Rara langsung menghela napas panjang.
Mereka lalu duduk berdampingan menunggu bulan muncul di balik gedung-gedung tinggi.
Beberapa menit kemudian, bulan purnama perlahan naik.
Besar.
Indah.
Terang.
Dan...
Putih.
Dimas berkedip.
Lalu berkedip lagi.
Tetap putih.
"Mana birunya?" tanya Rara.
"Mungkin masih loading."
"Ini bulan atau aplikasi?"
Dimas mulai gugup.
Lima menit berlalu.
Sepuluh menit berlalu.
Bulan tetap putih seperti biasanya.
Rara akhirnya membuka artikel dari NASA di ponselnya.
"Nah, ini dia jawabannya."
Dimas mendekat.
Rara membaca dengan suara pelan.
""Blue Moon tidak berarti Bulan berwarna biru. Istilah ini digunakan untuk menandai bulan purnama tambahan dalam periode tertentu.""
Dimas terdiam.
Harga dirinya jatuh dari orbit rendah Bumi langsung ke dasar laut.
Rara tertawa sampai matanya berair.
"Jadi selama ini kamu yakin bulan bakal biru?"
Dimas mengangguk lemah.
"Aku bahkan sudah menyiapkan filter kamera warna biru."
Rara tertawa semakin keras.
Angin malam berembus lembut.
Di sekitar mereka, banyak orang juga sedang menikmati pemandangan bulan purnama yang istimewa itu.
Meski tidak biru.
Meski tidak berbeda warna.
Tetapi tetap indah.
Rara lalu menatap langit.
"Aneh ya."
"Apa?"
"Meski namanya Blue Moon, ternyata tidak biru."
Dimas ikut menatap bulan.
"Iya."
Rara tersenyum kecil.
"Mirip cinta."
Dimas menoleh cepat.
"Maksudnya?"
"Kadang yang paling indah justru bukan yang kelihatan dari luar."
Jantung Dimas langsung berdetak lebih cepat.
Ia mencoba tetap tenang.
Walau sebenarnya di dalam kepalanya sudah ada marching band lengkap dengan drum dan trompet.
"Rara..."
"Hm?"
"Kalau Blue Moon tidak biru..."
"Iya?"
Dimas menarik napas panjang.
Lalu berkata pelan.
"...berarti ada satu hal yang lebih biru."
Rara mengangkat alis.
"Apa itu?"
Dimas tersenyum.
"Cintaku yang bertahun-tahun menunggu kamu sadar."
Beberapa detik suasana menjadi sunyi.
Rara menatapnya.
Dimas menatap Rara.
Bulan menatap mereka berdua.
Lalu...
Rara memukul lengannya.
"Dasar gombal."
"Tapi berhasil?"
Rara pura-pura berpikir.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Kamu traktir es krim dulu."
Dimas tertawa lega.
"Itu berarti ada harapan?"
Rara berdiri sambil tersenyum.
"Blue Moon saja munculnya jarang."
"Iya?"
"Tapi kesempatanmu muncul malam ini."
Dimas langsung berdiri.
"Jadi kita jadian?"
"Jangan cepat-cepat."
"Kenapa?"
"Karena aku masih mau lihat apakah cintamu benar-benar lebih biru dari Blue Moon."
Mereka pun berjalan meninggalkan taman sambil tertawa.
Di atas sana, bulan purnama bersinar terang.
Tidak biru.
Tetapi menjadi saksi bahwa kadang-kadang, hal yang paling indah bukanlah warna yang terlihat di langit.
Melainkan seseorang yang diam-diam sudah menunggu cukup lama untuk berkata,
"Aku suka kamu."
BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku
NEXT:
Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
PREV:
