View : 95 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Cerpen
Kamis, 03 September 2026

oleh Murdan SianturiSenin pagi, sebuah perubahan besar terjadi di Fakultas Ekonomi Universitas Jingga Pratama.
Hari itu adalah pertemuan pertama mata kuliah bahasa inggris setelah kampus menerapkan kurikulum baru.
Di pintu kelas terpampang kertas besar:
ENGLISH ONLY!
During English Class
Di bawahnya ada tulisan:
Rian membaca tulisan itu dua kali.
"Serius ini?”
Budi mengangguk.
"Serius.”
"Kalau mau bertanya?”
"English.”
"Kalau mau izin ke toilet?”
"English.”
"Kalau tiba-tiba bersin?”
Budi berpikir.
"Kalau bersin, kayaknya tidak perlu bahasa Inggris.”
Rian mengangguk lega.
"Syukurlah. Saya masih punya harapan.”
Dosen Masuk
Tepat pukul delapan, dosen Bahasa Inggris masuk.
"Good morning, students!”
"Good morning, Sir!”
"From today, we will use English during this class.”
"Yes, Sir!”
"No Indonesian.”
"Yes, Sir!”
"If you don"t know the English word, don"t panic. Try to explain it in English.”
Semua mahasiswa mengangguk.
Rian berbisik kepada Budi:
"Kalau tidak tahu bahasa Inggrisnya, bagaimana menjelaskannya?”
Budi menjawab pelan:
"Pakai bahasa Inggris yang tidak kita tahu.”
Rian menatapnya.
"Itu masalahnya.”
Pertanyaan Pertama
Dosen mulai menjelaskan materi.
"Today, we are going to learn about Simple Present Tense.”
Lima menit kemudian, Sinta mengangkat tangan.
"Yes, Sinta?”
"Sir, I have a question.”
"Yes, what is your question?”
Sinta menarik napas.
"Sir, when we use...”
Dia berhenti.
"...when we use...”
Dosen menunggu.
Sinta menoleh ke teman-temannya.
Tidak ada yang membantu.
Akhirnya dia berkata:
"When we use... this... grammar?”
Dosen tersenyum.
"Which grammar?”
Sinta menunjuk papan tulis.
"That grammar.”
Kelas tertawa.
Dosen ikut tertawa.
"You mean Simple Present Tense?”
"Yes, Sir!”
"Good. Ask your question.”
Sinta berpikir lagi.
"Why... why do we use it?”
Dosen menjawab panjang lebar.
Sinta mengangguk.
"Oh...”
Dosen bertanya:
"Do you understand?”
Sinta menjawab jujur:
"I understand your English, but I don't understand the answer.”
Satu kelas langsung meledak.
"HAHAHAHAHAHA!”
Operasi Toilet
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Budi mulai gelisah.
Dia mengangkat tangan.
"Yes, Budi?”
Budi berdiri.
"Sir... may I...”
Dia berhenti.
"May I what?”
Budi memejamkan mata.
"May I... go...”
Dosen tersenyum.
"Go where?”
Budi semakin gugup.
"To...”
Dia lupa kata toilet.
Teman di belakangnya berbisik:
"Restroom!”
Budi langsung berkata:
"Yes! May I go to the restroom?”
"Of course.”
Budi lega.
"Thank you, Sir.”
Dia berjalan keluar.
Lima menit kemudian Budi kembali.
Dosen melihat jam.
"You were gone for five minutes.”
"Yes, Sir.”
"Why?”
Budi menjawab:
"Because I had a small problem.”
"What problem?”
Budi terdiam.
Dia tidak tahu bahasa Inggris untuk celana saya hampir tidak bisa dibuka karena resleting macet.
Akhirnya dia berkata:
"My pants had a technical problem.”
Kelas pecah.
"HAHAHAHAHAHA!”
Dosen sampai tertawa.
"A technical problem?”
"Yes, Sir.”
"What happened?”
Budi menjawab:
"The zipper refused to cooperate.”
Kelas semakin kacau.
Giliran Rian
Setelah Budi duduk, Rian berkata:
"Sir, may I ask a question?”
"Yes.”
"What if we don"t know the English word?”
"You can explain it using other English words.”
Rian mengangguk.
"Okay, Sir.”
Dosen berkata:
"For example, if you don"t know the word umbrella, you can say: ‘The thing we use when it rains.’”
Rian mengangguk serius.
"Understood, Sir.”
"Good.”
Rian mengangkat tangan lagi.
"Yes?”
"Sir, what is the English word for penghapus?”
Dosen menjawab:
"Eraser.”
"Oh!”
Rian mengangguk.
"Thank you.”
Dosen tersenyum.
"See? You can ask.”
Rian duduk.
Lima detik kemudian dia mengangkat tangan lagi.
"Yes?”
"Sir, what is the English word for penggaris?”
"Ruler.”
"Oh, yes.”
Rian duduk.
Lima detik kemudian...
"Sir?”
Dosen mulai curiga.
"What?”
"What is the English word for...”
Dia berhenti.
Teman-temannya sudah tertawa.
Dosen berkata:
"You can ask me later.”
Rian menjawab:
"Okay, Sir.”
Dosen melanjutkan pelajaran.
Tiba-tiba Rian berkata:
"Sir?”
"Yes?”
"What is the English word for nanti?”
Kelas langsung:
"HAHAHAHAHAHA!”
Dosen memegang kepalanya.
"Later!”
Rian tersenyum.
"Thank you, Sir. I will ask you later.”
Presentasi Kelompok
Minggu berikutnya, mahasiswa mendapat tugas presentasi.
Kelompok Rian mendapat topik:
"The Importance of Communication.”
Rian menjadi pembicara pertama.
Dia berdiri di depan kelas.
"Good morning, everybody.”
"Good morning.”
"Today, my group will explain about the importance of communication.”
Dia melihat slide.
"Communication is very important because...”
Dia berhenti.
Karena apa?
Dia tahu jawabannya dalam bahasa Indonesia.
Tetapi bahasa Inggrisnya hilang entah ke mana.
Dia melihat teman-temannya.
Teman-temannya juga melihat dia.
Akhirnya Rian berkata:
"Communication is important because...”
Diam.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Akhirnya dia berkata:
"...without communication, we cannot communicate.”
Kelas hening.
Dosen menunduk.
Budi menggigit bibir menahan tawa.
Rian melanjutkan:
"For example, if I want to say something to you, I need communication.”
Dosen mengangguk.
Rian semakin percaya diri.
"If I don"t communicate, you don"t know what I want to say.”
Sinta berbisik:
"Ini benar sebenarnya.”
Budi menjawab:
"Benar, tapi muter.”
Rian menutup presentasi:
"So, communication is important because communication makes communication possible.”
Kelas akhirnya tidak tahan.
"HAHAHAHAHAHA!”
Bahkan dosennya tertawa.
Rian membungkuk.
"Thank you.”
Saat kembali ke tempat duduk, Budi berkata:
"Presentasimu luar biasa.”
"Serius?”
"Iya.”
"Bagus?”
"Tidak.”
Dosen Ikut Terjebak
Pada suatu pertemuan, dosen datang membawa laptop.
Dia mencoba menyalakan proyektor.
Tidak menyala.
Dia mencoba lagi.
Tetap tidak menyala.
"Why is this thing not working?”
Mahasiswa diam.
Dosen menekan tombol berkali-kali.
Kemudian tanpa sadar dia berkata:
"Waduh.”
Seluruh kelas langsung berteriak:
"ENGLISH, SIR!”
Dosen terdiam.
Mahasiswa tertawa.
Rian mengangkat tangan.
"Sir, you broke the rule.”
Dosen tersenyum.
"Yes, you"re right.”
Budi berkata:
"What is the penalty?”
Dosen berpikir.
"Okay. I will explain the lesson without PowerPoint.”
Mahasiswa langsung:
"NOOOOOOO!”
Dosen tertawa.
"Why?”
Rian menjawab:
"Because, Sir, your English is already difficult.”
"Without PowerPoint, it will be more difficult.”
Kelas kembali tertawa.
Ujian Lisan
Menjelang akhir semester, dosen mengadakan ujian lisan.
Sinta maju.
"Please introduce yourself.”
Sinta mulai:
"My name is Sinta. I am twenty-one years old. I live in Bekasi. I like listening to music and...”
Dia berhenti.
"What?”
Sinta lupa bahasa Inggris untuk memasak.
Dia mencoba menjelaskan:
"I like... making food.”
"Cooking?”
"Yes! Cooking!”
Dosen mengangguk.
"Good.”
Lalu dosen bertanya:
"What do you usually do in the morning?”
Sinta menjawab:
"I wake up.”
"Then?”
"I take a shower.”
"Then?”
"I have breakfast.”
"Then?”
"I go to campus.”
"Good. What do you do when you arrive late?”
Sinta berpikir.
Kemudian menjawab:
"I walk slowly.”
Dosen tertawa.
"No. What do you do when you arrive late?”
Sinta akhirnya menjawab:
"I say sorry.”
"Good!”
Sinta tersenyum.
"See? My English is improving.”
Dosen mengangguk.
"Yes.”
Sinta kembali ke tempat duduk dengan bangga.
Budi berbisik:
"Congratulations.”
"Thank you.”
"Kamu sudah bisa bahasa Inggris.”
"Really?”
"Yes.”
"Bagaimana tahu?”
"Karena tadi kamu tidak bilang ‘maaf’, kamu bilang ‘sorry’.”
Hari Terakhir
Pada pertemuan terakhir, dosen berdiri di depan kelas.
"I am very happy with your progress.”
Mahasiswa tersenyum.
"You can speak English better now.”
"Yes, Sir!”
"You can ask questions.”
"Yes, Sir!”
"You can discuss in English.”
"Yes, Sir!”
"You can even ask permission to go to the restroom in English.”
Semua mahasiswa tertawa.
Budi mengangkat tangan.
"Sir?”
"Yes?”
"Can I ask one final question?”
"Of course.”
Budi berdiri.
"If the class is finished...”
"Yes?”
"Can we speak Indonesian again?”
Dosen tersenyum.
"Of course.”
Budi menarik napas panjang.
Kemudian dia berkata:
"Akhirnya! Capek juga, Pak!”
Kelas meledak.
"HAHAHAHAHAHAHAHA!”
Rian langsung berdiri.
"Pak, saya juga mau bilang sesuatu.”
"Apa?”
"Saya dari semester pertama sebenarnya sudah mau bilang itu.”
"Kenapa baru sekarang?”
"Takut kena penalty, Pak!”
Dosen tertawa.
"Good. Your English has improved.”
Budi menyahut:
"Bahasa Inggris meningkat, Pak.”
Rian menambahkan:
"Bahasa Indonesia hampir pensiun.”
Dosen tertawa.
Kemudian dia menutup kelas:
"Okay, students. See you next semester.”
Semua mahasiswa menjawab:
"See you, Sir!”
Mereka keluar kelas.
Begitu pintu tertutup...
Budi berteriak:
"WOI, AKHIRNYA KITA BISA NGOMONG INDONESIA!”
Rian menjawab:
"IYA! GUE MAU KE TOILET!”
Sinta menyahut dari belakang:
"NGGAK USAH IZIN LAGI!”
Dan untuk pertama kalinya setelah satu semester...
Tidak ada seorang pun yang menerjemahkan kalimat mereka ke bahasa Inggris.
ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
Kamis, 03 September 2026
ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia

Cerpen English Only: Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
oleh Murdan SianturiSenin pagi, sebuah perubahan besar terjadi di Fakultas Ekonomi Universitas Jingga Pratama.
Hari itu adalah pertemuan pertama mata kuliah bahasa inggris setelah kampus menerapkan kurikulum baru.
Di pintu kelas terpampang kertas besar:
ENGLISH ONLY!
During English Class
Di bawahnya ada tulisan:
Dosen menjelaskan dalam bahasa Inggris.
Mahasiswa bertanya dalam bahasa Inggris.
Diskusi dalam bahasa Inggris.
Bahkan izin ke toilet harus menggunakan bahasa Inggris.
Mahasiswa bertanya dalam bahasa Inggris.
Diskusi dalam bahasa Inggris.
Bahkan izin ke toilet harus menggunakan bahasa Inggris.
Rian membaca tulisan itu dua kali.
"Serius ini?”
Budi mengangguk.
"Serius.”
"Kalau mau bertanya?”
"English.”
"Kalau mau izin ke toilet?”
"English.”
"Kalau tiba-tiba bersin?”
Budi berpikir.
"Kalau bersin, kayaknya tidak perlu bahasa Inggris.”
Rian mengangguk lega.
"Syukurlah. Saya masih punya harapan.”
Tepat pukul delapan, dosen Bahasa Inggris masuk.
"Good morning, students!”
"Good morning, Sir!”
"From today, we will use English during this class.”
"Yes, Sir!”
"No Indonesian.”
"Yes, Sir!”
"If you don"t know the English word, don"t panic. Try to explain it in English.”
Semua mahasiswa mengangguk.
Rian berbisik kepada Budi:
"Kalau tidak tahu bahasa Inggrisnya, bagaimana menjelaskannya?”
Budi menjawab pelan:
"Pakai bahasa Inggris yang tidak kita tahu.”
Rian menatapnya.
"Itu masalahnya.”
Dosen mulai menjelaskan materi.
"Today, we are going to learn about Simple Present Tense.”
Lima menit kemudian, Sinta mengangkat tangan.
"Yes, Sinta?”
"Sir, I have a question.”
"Yes, what is your question?”
Sinta menarik napas.
"Sir, when we use...”
Dia berhenti.
"...when we use...”
Dosen menunggu.
Sinta menoleh ke teman-temannya.
Tidak ada yang membantu.
Akhirnya dia berkata:
"When we use... this... grammar?”
Dosen tersenyum.
"Which grammar?”
Sinta menunjuk papan tulis.
"That grammar.”
Kelas tertawa.
Dosen ikut tertawa.
"You mean Simple Present Tense?”
"Yes, Sir!”
"Good. Ask your question.”
Sinta berpikir lagi.
"Why... why do we use it?”
Dosen menjawab panjang lebar.
Sinta mengangguk.
"Oh...”
Dosen bertanya:
"Do you understand?”
Sinta menjawab jujur:
"I understand your English, but I don't understand the answer.”
Satu kelas langsung meledak.
"HAHAHAHAHAHA!”
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Budi mulai gelisah.
Dia mengangkat tangan.
"Yes, Budi?”
Budi berdiri.
"Sir... may I...”
Dia berhenti.
"May I what?”
Budi memejamkan mata.
"May I... go...”
Dosen tersenyum.
"Go where?”
Budi semakin gugup.
"To...”
Dia lupa kata toilet.
Teman di belakangnya berbisik:
"Restroom!”
Budi langsung berkata:
"Yes! May I go to the restroom?”
"Of course.”
Budi lega.
"Thank you, Sir.”
Dia berjalan keluar.
Lima menit kemudian Budi kembali.
Dosen melihat jam.
"You were gone for five minutes.”
"Yes, Sir.”
"Why?”
Budi menjawab:
"Because I had a small problem.”
"What problem?”
Budi terdiam.
Dia tidak tahu bahasa Inggris untuk celana saya hampir tidak bisa dibuka karena resleting macet.
Akhirnya dia berkata:
"My pants had a technical problem.”
Kelas pecah.
"HAHAHAHAHAHA!”
Dosen sampai tertawa.
"A technical problem?”
"Yes, Sir.”
"What happened?”
Budi menjawab:
"The zipper refused to cooperate.”
Kelas semakin kacau.
Setelah Budi duduk, Rian berkata:
"Sir, may I ask a question?”
"Yes.”
"What if we don"t know the English word?”
"You can explain it using other English words.”
Rian mengangguk.
"Okay, Sir.”
Dosen berkata:
"For example, if you don"t know the word umbrella, you can say: ‘The thing we use when it rains.’”
Rian mengangguk serius.
"Understood, Sir.”
"Good.”
Rian mengangkat tangan lagi.
"Yes?”
"Sir, what is the English word for penghapus?”
Dosen menjawab:
"Eraser.”
"Oh!”
Rian mengangguk.
"Thank you.”
Dosen tersenyum.
"See? You can ask.”
Rian duduk.
Lima detik kemudian dia mengangkat tangan lagi.
"Yes?”
"Sir, what is the English word for penggaris?”
"Ruler.”
"Oh, yes.”
Rian duduk.
Lima detik kemudian...
"Sir?”
Dosen mulai curiga.
"What?”
"What is the English word for...”
Dia berhenti.
Teman-temannya sudah tertawa.
Dosen berkata:
"You can ask me later.”
Rian menjawab:
"Okay, Sir.”
Dosen melanjutkan pelajaran.
Tiba-tiba Rian berkata:
"Sir?”
"Yes?”
"What is the English word for nanti?”
Kelas langsung:
"HAHAHAHAHAHA!”
Dosen memegang kepalanya.
"Later!”
Rian tersenyum.
"Thank you, Sir. I will ask you later.”
Minggu berikutnya, mahasiswa mendapat tugas presentasi.
Kelompok Rian mendapat topik:
"The Importance of Communication.”
Rian menjadi pembicara pertama.
Dia berdiri di depan kelas.
"Good morning, everybody.”
"Good morning.”
"Today, my group will explain about the importance of communication.”
Dia melihat slide.
"Communication is very important because...”
Dia berhenti.
Karena apa?
Dia tahu jawabannya dalam bahasa Indonesia.
Tetapi bahasa Inggrisnya hilang entah ke mana.
Dia melihat teman-temannya.
Teman-temannya juga melihat dia.
Akhirnya Rian berkata:
"Communication is important because...”
Diam.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Akhirnya dia berkata:
"...without communication, we cannot communicate.”
Kelas hening.
Dosen menunduk.
Budi menggigit bibir menahan tawa.
Rian melanjutkan:
"For example, if I want to say something to you, I need communication.”
Dosen mengangguk.
Rian semakin percaya diri.
"If I don"t communicate, you don"t know what I want to say.”
Sinta berbisik:
"Ini benar sebenarnya.”
Budi menjawab:
"Benar, tapi muter.”
Rian menutup presentasi:
"So, communication is important because communication makes communication possible.”
Kelas akhirnya tidak tahan.
"HAHAHAHAHAHA!”
Bahkan dosennya tertawa.
Rian membungkuk.
"Thank you.”
Saat kembali ke tempat duduk, Budi berkata:
"Presentasimu luar biasa.”
"Serius?”
"Iya.”
"Bagus?”
"Tidak.”
Pada suatu pertemuan, dosen datang membawa laptop.
Dia mencoba menyalakan proyektor.
Tidak menyala.
Dia mencoba lagi.
Tetap tidak menyala.
"Why is this thing not working?”
Mahasiswa diam.
Dosen menekan tombol berkali-kali.
Kemudian tanpa sadar dia berkata:
"Waduh.”
Seluruh kelas langsung berteriak:
"ENGLISH, SIR!”
Dosen terdiam.
Mahasiswa tertawa.
Rian mengangkat tangan.
"Sir, you broke the rule.”
Dosen tersenyum.
"Yes, you"re right.”
Budi berkata:
"What is the penalty?”
Dosen berpikir.
"Okay. I will explain the lesson without PowerPoint.”
Mahasiswa langsung:
"NOOOOOOO!”
Dosen tertawa.
"Why?”
Rian menjawab:
"Because, Sir, your English is already difficult.”
"Without PowerPoint, it will be more difficult.”
Kelas kembali tertawa.
Menjelang akhir semester, dosen mengadakan ujian lisan.
Sinta maju.
"Please introduce yourself.”
Sinta mulai:
"My name is Sinta. I am twenty-one years old. I live in Bekasi. I like listening to music and...”
Dia berhenti.
"What?”
Sinta lupa bahasa Inggris untuk memasak.
Dia mencoba menjelaskan:
"I like... making food.”
"Cooking?”
"Yes! Cooking!”
Dosen mengangguk.
"Good.”
Lalu dosen bertanya:
"What do you usually do in the morning?”
Sinta menjawab:
"I wake up.”
"Then?”
"I take a shower.”
"Then?”
"I have breakfast.”
"Then?”
"I go to campus.”
"Good. What do you do when you arrive late?”
Sinta berpikir.
Kemudian menjawab:
"I walk slowly.”
Dosen tertawa.
"No. What do you do when you arrive late?”
Sinta akhirnya menjawab:
"I say sorry.”
"Good!”
Sinta tersenyum.
"See? My English is improving.”
Dosen mengangguk.
"Yes.”
Sinta kembali ke tempat duduk dengan bangga.
Budi berbisik:
"Congratulations.”
"Thank you.”
"Kamu sudah bisa bahasa Inggris.”
"Really?”
"Yes.”
"Bagaimana tahu?”
"Karena tadi kamu tidak bilang ‘maaf’, kamu bilang ‘sorry’.”
Pada pertemuan terakhir, dosen berdiri di depan kelas.
"I am very happy with your progress.”
Mahasiswa tersenyum.
"You can speak English better now.”
"Yes, Sir!”
"You can ask questions.”
"Yes, Sir!”
"You can discuss in English.”
"Yes, Sir!”
"You can even ask permission to go to the restroom in English.”
Semua mahasiswa tertawa.
Budi mengangkat tangan.
"Sir?”
"Yes?”
"Can I ask one final question?”
"Of course.”
Budi berdiri.
"If the class is finished...”
"Yes?”
"Can we speak Indonesian again?”
Dosen tersenyum.
"Of course.”
Budi menarik napas panjang.
Kemudian dia berkata:
"Akhirnya! Capek juga, Pak!”
Kelas meledak.
"HAHAHAHAHAHAHAHA!”
Rian langsung berdiri.
"Pak, saya juga mau bilang sesuatu.”
"Apa?”
"Saya dari semester pertama sebenarnya sudah mau bilang itu.”
"Kenapa baru sekarang?”
"Takut kena penalty, Pak!”
Dosen tertawa.
"Good. Your English has improved.”
Budi menyahut:
"Bahasa Inggris meningkat, Pak.”
Rian menambahkan:
"Bahasa Indonesia hampir pensiun.”
Dosen tertawa.
Kemudian dia menutup kelas:
"Okay, students. See you next semester.”
Semua mahasiswa menjawab:
"See you, Sir!”
Mereka keluar kelas.
Begitu pintu tertutup...
Budi berteriak:
"WOI, AKHIRNYA KITA BISA NGOMONG INDONESIA!”
Rian menjawab:
"IYA! GUE MAU KE TOILET!”
Sinta menyahut dari belakang:
"NGGAK USAH IZIN LAGI!”
Dan untuk pertama kalinya setelah satu semester...
Tidak ada seorang pun yang menerjemahkan kalimat mereka ke bahasa Inggris.
Mereka semua tertawa.
ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
NEXT:
Rp10,5 Triliun untuk OJK 2027: Jangan Sampai DPR Salah Membaca Masalah
PREV:
