Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 119 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Cerpen
Jumat, 21 Maret 2025

Bram dan Tantangan PUE

Bram duduk di ruangannya, menatap layar monitor dengan wajah tegang. Angka PUE di data center mereka naik drastis menjadi 2.3 - angka yang sangat buruk. Direktur sudah mengirim email bernada marah pagi tadi, memintanya segera mencari solusi.

Bram menghela napas panjang. Dulu, ketika menjadi pemandu turis, hidupnya hanya seputar tempat wisata dan berbicara bahasa Inggris dengan wisatawan. Saat menjadi manajer IT di bank asing, ia mengandalkan timnya untuk urusan teknis. Tapi sekarang, sebagai Manajer PUE, ia harus benar-benar paham efisiensi energi di pusat data. Masalahnya, ia baru belajar konsep-konsep ini.


Gangguan Besar di Data Center

"Pak Bram! UPS di rack lima overload! Pendinginan gak kuat!" seru Rudi, salah satu teknisi.

Bram berdiri tergesa-gesa dan bergegas ke ruang server. Udara panas langsung menyambutnya begitu ia masuk. AC pendingin bekerja keras, tapi server terus mengalami overheating. Para teknisi panik, mencoba mencari tahu penyebabnya.

"Kita butuh pendinginan tambahan!" kata Siska, kepala teknisi. "Tapi daya listrik kita udah hampir limit."

Bram menggaruk kepalanya. Ini bukan sekadar memindahkan turis dari satu tempat ke tempat lain, ini soal sistem yang kompleks. Jika salah mengambil keputusan, seluruh layanan bisa down, dan itu berarti kerugian miliaran rupiah.

Bram mengumpulkan timnya. "Kita perlu solusi cepat! Kenapa PUE bisa naik drastis?"

"Pak, sistem pendinginan sudah bekerja maksimal," kata Rudi. "Tapi ada kemungkinan ada kebocoran daya dari distribusi listrik."

"Maksudnya?" tanya Bram.

"Ada kemungkinan UPS kita nggak efisien, atau ada perangkat yang konsumsi dayanya berlebihan. Kita harus cek satu per satu."

Bram mengangguk, tapi ia tahu ini tidak semudah yang diucapkan.

"Pak Bram," Siska menambahkan, "sejujurnya, kita perlu alat monitoring lebih canggih. Tapi itu butuh anggaran."

Bram merasa pusing. Direktur pasti tidak akan suka mendengar ini.


Sore itu, Bram dipanggil ke ruang direktur. Begitu ia duduk, pria berkacamata di depannya langsung berbicara dengan nada tinggi.

"Bram! Apa yang terjadi dengan PUE kita? Saya nggak mau dengar alasan, saya mau solusi!"

"Pak, tim kami sudah bekerja keras," kata Bram, mencoba tetap tenang. "Kami menemukan indikasi kebocoran daya dari UPS dan pendinginan yang kurang optimal. Kami butuh alat monitoring lebih akurat untuk menganalisis masalah ini lebih dalam."

Direktur menggeleng. "Saya nggak mau keluar uang untuk alat baru kalau kalian sendiri nggak bisa kelola sistem yang ada! Kamu harus buktikan dulu kalau memang alat itu diperlukan."

Bram menahan napas. "Baik, Pak. Saya akan buktikan."


Bram kembali ke timnya. Ia menyusun strategi:

  • Mereka akan melakukan audit manual untuk melacak sumber inefisiensi.

  • Mengoptimalkan tata letak server agar pendinginan lebih efektif.

  • Menggunakan sensor suhu portable untuk memantau area panas.

Mereka bekerja sepanjang malam. Esok paginya, mereka menemukan masalah utama: Sebuah UPS tua di salah satu rak ternyata membuang energi terlalu banyak! Bram segera memerintahkan pemindahan beban ke UPS yang lebih efisien.

Seminggu kemudian, mereka berhasil menurunkan PUE ke 1.7 - belum sempurna, tapi jauh lebih baik.

Direktur akhirnya mengakui kerja keras mereka. Bram mendapatkan anggaran untuk alat monitoring yang lebih canggih. Meski begitu, ia tahu tantangan di dunia PUE belum berakhir. Tapi kini, ia semakin percaya diri bahwa dengan kerja tim dan strategi yang tepat, ia bisa menghadapi apa pun.

"Ternyata jadi manajer PUE lebih menantang daripada jadi guide turis," gumamnya sambil tersenyum.






Bram dan Tantangan PUE








NEXT:

Mahasiswa UUUI Gugat Semesta


PREV:

Terbelenggu Rindu

NEXT:

Mahasiswa UUUI Gugat Semesta


PREV:

Terbelenggu Rindu

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Cerpen :
  • ENGLISH ONLY! Ketika Kuliah Bahasa Inggris Membuat Mahasiswa Lupa Bahasa Indonesia
  • Harta yang Tak Lagi Bisa Bersembunyi (Cerpen Fiksi)
  • DEMO YANG TIDAK PERNAH DIMULAI (Cerpen Satire)
  • Kursi Nomor Tujuh (Sebuah Cerpen)
  • BlueMoon, Tak Sebiru Cintaku
  • Menteri Pengadaan Publik Bernama Diella (Hanya Sebuah Cerpen)
  • AH dan Uang Desa yang Tersesat
  • Mahasiswa UUUI Gugat Semesta
  • Bram dan Tantangan PUE
  • Terbelenggu Rindu
  • Koruptor di Ujung Tiang
  • Ketika Dunia Butuh Liburan
  • Hukuman Langit untuk Kaum Fitnah

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan