View : 58 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Ekonomi Indonesia
Kamis, 11 Juni 2026

Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Langkah Indonesia dan Filipina mengurangi ketergantungan pada dolar dilakukan pada saat yang tepat. Pada Kamis, 11 Juni 2026, rupiah memang mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan dan bergerak di kisaran Rp17.941 per dolar AS. Namun angka tersebut masih tergolong lemah jika dibandingkan dengan posisi historis rupiah beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, setiap upaya yang dapat mengurangi kebutuhan dolar dalam perdagangan internasional patut diapresiasi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang, Indonesia dan Filipina mengambil langkah yang cukup menarik. Kedua negara menyepakati skema imbal dagang (barter) senilai sekitar 350 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp6 triliun sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.
Langkah ini mungkin terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian orang terkesan seperti kembali ke sistem perdagangan zaman dahulu. Namun sesungguhnya, keputusan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap perdagangan internasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Ketika Dolar Menjadi Terlalu Dominan
Selama puluhan tahun, dolar AS menjadi mata uang utama dalam perdagangan dunia. Sebagian besar transaksi ekspor dan impor antarnegara menggunakan dolar sebagai alat pembayaran. Dominasi ini memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat karena permintaan terhadap dolar terus terjaga.
Namun bagi negara-negara berkembang, ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar dapat menimbulkan risiko. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat, tekanan terhadap cadangan devisa bertambah, dan nilai tukar mata uang domestik menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar global.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelemahan rupiah menjadi perhatian banyak pihak. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari berbagai alternatif untuk menjaga stabilitas perdagangan dan mengurangi kebutuhan penggunaan dolar dalam transaksi internasional. Salah satu opsi yang dipilih adalah skema barter atau imbal dagang.
Apa yang Disepakati Indonesia dan Filipina?
Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa Indonesia dan Filipina telah menjajaki kerja sama imbal dagang yang mencakup beberapa komoditas strategis. Di antaranya adalah pertukaran serat abaka dari Filipina dengan produk tekstil Indonesia, serta transaksi yang melibatkan bijih besi dan baja. Nilai potensial kerja sama tersebut mencapai sekitar 350 juta dolar AS.
Penting untuk dipahami bahwa barter modern tidak sama dengan konsep barter tradisional yang sering dibayangkan masyarakat. Dalam perdagangan internasional saat ini, setiap komoditas tetap dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku. Hanya saja, penyelesaian transaksi dilakukan melalui pertukaran komoditas yang disepakati sehingga kebutuhan penggunaan mata uang asing dapat dikurangi.
Dengan kata lain, kedua negara tetap melakukan perdagangan yang modern dan terukur, tetapi tidak harus selalu bergantung pada pembayaran menggunakan dolar AS.
Manfaat yang Bisa Diperoleh
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari skema ini.
Pertama, mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa. Jika sebagian transaksi dapat dilakukan tanpa penggunaan dolar, maka kebutuhan membeli dolar di pasar valuta asing menjadi lebih kecil. Hal ini berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Kedua, memperkuat hubungan dagang bilateral. Kerja sama semacam ini mendorong pelaku usaha di kedua negara untuk membangun rantai pasok yang lebih erat dan saling menguntungkan.
Ketiga, memberikan alternatif di tengah ketidakpastian global. Ketika pasar keuangan internasional mengalami gejolak, negara-negara yang memiliki mekanisme perdagangan alternatif akan lebih fleksibel dalam menjaga aktivitas ekonomi.
Keempat, membuka peluang peningkatan ekspor Indonesia. Filipina merupakan salah satu pasar yang potensial bagi berbagai produk Indonesia, mulai dari tekstil, makanan olahan, kopi, hingga produk manufaktur lainnya.
Apakah Ini Tanda dedolarisasi?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah langkah ini merupakan awal dari dedolarisasi?
Secara sederhana, dedolarisasi adalah upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mencari alternatif pembayaran menggunakan mata uang lokal, sistem kliring bilateral, maupun skema perdagangan lainnya.
Namun, kita juga perlu bersikap realistis. Nilai perdagangan Indonesia dengan dunia mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun. Nilai barter Indonesia--Filipina sebesar 350 juta dolar AS masih relatif kecil dibandingkan total perdagangan internasional Indonesia.
Karena itu, skema ini belum dapat dianggap sebagai pengganti sistem perdagangan berbasis dolar. Lebih tepat jika dipandang sebagai langkah diversifikasi, yaitu menambah pilihan mekanisme transaksi agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu mata uang saja.
Tantangan yang Harus Diperhatikan
Meskipun menjanjikan, sistem barter juga memiliki tantangan.
Tidak semua komoditas cocok diperdagangkan melalui mekanisme imbal dagang. Kedua pihak harus memiliki kebutuhan yang saling melengkapi dan nilai ekonominya harus seimbang.
Selain itu, perdagangan global saat ini sangat terintegrasi dengan sistem keuangan internasional yang masih didominasi dolar AS. Banyak kontrak perdagangan, pembiayaan ekspor, asuransi, hingga sistem pembayaran internasional tetap menggunakan dolar sebagai standar utama.
Oleh sebab itu, barter tidak akan menggantikan dolar dalam waktu dekat. Namun ia dapat menjadi instrumen tambahan yang membantu mengurangi risiko ketika terjadi gejolak nilai tukar.
Penutup
Keputusan Indonesia dan Filipina untuk menggunakan skema barter menunjukkan bahwa kedua negara sedang mencari cara yang lebih kreatif dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Langkah ini bukan sekadar pertukaran komoditas, melainkan bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan perdagangan dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari nilai transaksi yang tercapai, tetapi juga dari kemampuannya membuka jalan bagi model perdagangan yang lebih fleksibel, efisien, dan tahan terhadap gejolak eksternal.
Di era ketika ketidakpastian global semakin tinggi, memiliki lebih banyak pilihan dalam sistem perdagangan bukanlah kemunduran. Justru sebaliknya, itu merupakan bentuk adaptasi agar perekonomian nasional tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
Kamis, 11 Juni 2026
Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar

ilustrasi perdagangan barter antara indonesia dan filipina untuk mengurangi ketergantungan pada dolar as
Oleh: Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom.Langkah Indonesia dan Filipina mengurangi ketergantungan pada dolar dilakukan pada saat yang tepat. Pada Kamis, 11 Juni 2026, rupiah memang mulai menunjukkan tanda-tanda penguatan dan bergerak di kisaran Rp17.941 per dolar AS. Namun angka tersebut masih tergolong lemah jika dibandingkan dengan posisi historis rupiah beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, setiap upaya yang dapat mengurangi kebutuhan dolar dalam perdagangan internasional patut diapresiasi sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan tekanan terhadap berbagai mata uang negara berkembang, Indonesia dan Filipina mengambil langkah yang cukup menarik. Kedua negara menyepakati skema imbal dagang (barter) senilai sekitar 350 juta dolar AS atau setara lebih dari Rp6 triliun sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional.
Baca Juga:
Langkah ini mungkin terdengar sederhana, bahkan bagi sebagian orang terkesan seperti kembali ke sistem perdagangan zaman dahulu. Namun sesungguhnya, keputusan tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap perdagangan internasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
Ketika Dolar Menjadi Terlalu Dominan
Selama puluhan tahun, dolar AS menjadi mata uang utama dalam perdagangan dunia. Sebagian besar transaksi ekspor dan impor antarnegara menggunakan dolar sebagai alat pembayaran. Dominasi ini memberikan keuntungan bagi Amerika Serikat karena permintaan terhadap dolar terus terjaga.
Namun bagi negara-negara berkembang, ketergantungan yang berlebihan terhadap dolar dapat menimbulkan risiko. Ketika dolar menguat, biaya impor meningkat, tekanan terhadap cadangan devisa bertambah, dan nilai tukar mata uang domestik menjadi lebih rentan terhadap gejolak pasar global.
Dalam beberapa waktu terakhir, pelemahan rupiah menjadi perhatian banyak pihak. Kondisi tersebut mendorong pemerintah mencari berbagai alternatif untuk menjaga stabilitas perdagangan dan mengurangi kebutuhan penggunaan dolar dalam transaksi internasional. Salah satu opsi yang dipilih adalah skema barter atau imbal dagang.
Apa yang Disepakati Indonesia dan Filipina?
Menteri Perdagangan menyampaikan bahwa Indonesia dan Filipina telah menjajaki kerja sama imbal dagang yang mencakup beberapa komoditas strategis. Di antaranya adalah pertukaran serat abaka dari Filipina dengan produk tekstil Indonesia, serta transaksi yang melibatkan bijih besi dan baja. Nilai potensial kerja sama tersebut mencapai sekitar 350 juta dolar AS.
Penting untuk dipahami bahwa barter modern tidak sama dengan konsep barter tradisional yang sering dibayangkan masyarakat. Dalam perdagangan internasional saat ini, setiap komoditas tetap dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku. Hanya saja, penyelesaian transaksi dilakukan melalui pertukaran komoditas yang disepakati sehingga kebutuhan penggunaan mata uang asing dapat dikurangi.
Dengan kata lain, kedua negara tetap melakukan perdagangan yang modern dan terukur, tetapi tidak harus selalu bergantung pada pembayaran menggunakan dolar AS.
Manfaat yang Bisa Diperoleh
Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari skema ini.
Pertama, mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa. Jika sebagian transaksi dapat dilakukan tanpa penggunaan dolar, maka kebutuhan membeli dolar di pasar valuta asing menjadi lebih kecil. Hal ini berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Kedua, memperkuat hubungan dagang bilateral. Kerja sama semacam ini mendorong pelaku usaha di kedua negara untuk membangun rantai pasok yang lebih erat dan saling menguntungkan.
Ketiga, memberikan alternatif di tengah ketidakpastian global. Ketika pasar keuangan internasional mengalami gejolak, negara-negara yang memiliki mekanisme perdagangan alternatif akan lebih fleksibel dalam menjaga aktivitas ekonomi.
Keempat, membuka peluang peningkatan ekspor Indonesia. Filipina merupakan salah satu pasar yang potensial bagi berbagai produk Indonesia, mulai dari tekstil, makanan olahan, kopi, hingga produk manufaktur lainnya.
Apakah Ini Tanda dedolarisasi?
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah langkah ini merupakan awal dari dedolarisasi?
Secara sederhana, dedolarisasi adalah upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mencari alternatif pembayaran menggunakan mata uang lokal, sistem kliring bilateral, maupun skema perdagangan lainnya.
Namun, kita juga perlu bersikap realistis. Nilai perdagangan Indonesia dengan dunia mencapai ratusan miliar dolar setiap tahun. Nilai barter Indonesia--Filipina sebesar 350 juta dolar AS masih relatif kecil dibandingkan total perdagangan internasional Indonesia.
Karena itu, skema ini belum dapat dianggap sebagai pengganti sistem perdagangan berbasis dolar. Lebih tepat jika dipandang sebagai langkah diversifikasi, yaitu menambah pilihan mekanisme transaksi agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu mata uang saja.
Tantangan yang Harus Diperhatikan
Meskipun menjanjikan, sistem barter juga memiliki tantangan.
Tidak semua komoditas cocok diperdagangkan melalui mekanisme imbal dagang. Kedua pihak harus memiliki kebutuhan yang saling melengkapi dan nilai ekonominya harus seimbang.
Selain itu, perdagangan global saat ini sangat terintegrasi dengan sistem keuangan internasional yang masih didominasi dolar AS. Banyak kontrak perdagangan, pembiayaan ekspor, asuransi, hingga sistem pembayaran internasional tetap menggunakan dolar sebagai standar utama.
Oleh sebab itu, barter tidak akan menggantikan dolar dalam waktu dekat. Namun ia dapat menjadi instrumen tambahan yang membantu mengurangi risiko ketika terjadi gejolak nilai tukar.
Penutup
Keputusan Indonesia dan Filipina untuk menggunakan skema barter menunjukkan bahwa kedua negara sedang mencari cara yang lebih kreatif dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Langkah ini bukan sekadar pertukaran komoditas, melainkan bagian dari strategi untuk memperkuat ketahanan perdagangan dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Keberhasilan program ini nantinya tidak hanya diukur dari nilai transaksi yang tercapai, tetapi juga dari kemampuannya membuka jalan bagi model perdagangan yang lebih fleksibel, efisien, dan tahan terhadap gejolak eksternal.
Di era ketika ketidakpastian global semakin tinggi, memiliki lebih banyak pilihan dalam sistem perdagangan bukanlah kemunduran. Justru sebaliknya, itu merupakan bentuk adaptasi agar perekonomian nasional tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
NEXT:
Prediksi Brasil vs Maroko – Minggu, 14 Juni 2026 Pukul 05:00 WIB. Ala lae Murdan
PREV:
