Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 28 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Ekonomi Indonesia
Kamis, 21 Mei 2026

Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN

Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Pemerintah (PP) tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam yang mewajibkan ekspor komoditas tertentu dilakukan melalui satu pintu lewat Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Kebijakan ini akan diberlakukan secara bertahap mulai Juni hingga September 2026.

Dalam tahap awal, aturan tersebut berlaku untuk:
  • minyak kelapa sawit (CPO)
  • batu bara
  • ferroalloy atau paduan besi
Melalui aturan baru ini, penjualan ke luar negeri wajib dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk pemerintah sebagai fasilitator pemasaran ekspor nasional.

Namun pemerintah menegaskan bahwa hasil devisa ekspor tetap diteruskan kepada perusahaan pengelola kegiatan usaha terkait.

Artinya:
  • negara memperkuat pengawasan,
  • tetapi aktivitas bisnis dan kepemilikan usaha tetap berada di tangan perusahaan.

Mengapa Pemerintah Mengambil Langkah Ini?

Tujuan utama kebijakan ini adalah memperkuat tata kelola ekspor nasional.

Pemerintah ingin menutup berbagai potensi kebocoran ekonomi yang selama ini dinilai merugikan negara, seperti:
  • under-invoicing
  • transfer pricing
  • dan pelarian devisa hasil ekspor (DHE)
Under-invoicing misalnya,
terjadi ketika nilai ekspor dilaporkan lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Akibatnya:
  • penerimaan negara berkurang
  • devisa tidak masuk optimal
  • dan transparansi perdagangan melemah
Melalui sistem satu pintu,
pemerintah berharap arus ekspor menjadi:
  • lebih transparan
  • lebih terukur
  • dan lebih akuntabel

Indonesia Sedang Membangun Sistem Ekonomi yang Lebih Kuat

Kebijakan ini sebenarnya menunjukkan arah penting:
Indonesia ingin membangun sistem ekonomi nasional yang lebih tertata dan modern.

Dalam ekonomi global modern, negara-negara besar juga melakukan pengawasan ketat terhadap komoditas strategis mereka.

China mengontrol mineral penting.
Negara Timur Tengah mengatur ekspor energi.
Amerika mengawasi teknologi strategis.

Karena itu, langkah Indonesia memperkuat tata kelola ekspor bukanlah sesuatu yang aneh dalam ekonomi global.

Justru ini dapat menjadi sinyal bahwa Indonesia semakin serius:
  • menjaga sumber daya nasional
  • memperkuat devisa
  • meningkatkan transparansi perdagangan
  • dan membangun fondasi ekonomi jangka panjang

Potensi Besar untuk Stabilitas Ekonomi Nasional

Pemerintah memperkirakan potensi kebocoran ekonomi dari berbagai praktik manipulasi perdagangan selama ini dapat mencapai:
US$ 150 miliar per tahun.

Jika pengawasan berjalan efektif,
Indonesia berpotensi memperoleh:
  • cadangan devisa lebih kuat
  • penerimaan negara lebih optimal
  • stabilitas rupiah lebih baik
  • serta kemampuan pembiayaan pembangunan yang lebih besar
Bagi investor jangka panjang,
stabilitas seperti ini justru menjadi faktor penting.

Karena investor besar pada dasarnya menyukai:
  • kepastian sistem
  • tata kelola yang jelas
  • pengawasan yang kuat
  • dan ekonomi yang stabil

Hilirisasi dan Industrialisasi Akan Semakin Kuat

Kebijakan ini juga sejalan dengan arah besar ekonomi Indonesia:
hilirisasi dan industrialisasi nasional.

Indonesia tidak ingin terus menerus hanya menjadi eksportir bahan mentah.

Pemerintah ingin:
  • nilai tambah diciptakan di dalam negeri
  • industri tumbuh
  • lapangan kerja meningkat
  • dan transfer teknologi terjadi di Indonesia
Karena itu penguatan tata kelola ekspor dipandang sebagai bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi nasional.

Tantangan Utamanya: Efisiensi dan Transparansi

Keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada:
  • efisiensi sistem
  • transparansi pelaksanaan
  • digitalisasi pengawasan
  • dan profesionalisme BUMN yang ditunjuk
Jika dijalankan secara modern dan profesional,
Indonesia justru bisa memperlihatkan kepada dunia bahwa:

negara berkembang juga mampu membangun sistem perdagangan strategis yang kuat dan terpercaya.

Kesimpulan


Kebijakan ekspor satu pintu lewat BUMN di era Prabowo Subianto menunjukkan arah baru ekonomi Indonesia:
lebih terkontrol,
lebih transparan,
dan lebih berorientasi pada kepentingan nasional jangka panjang.

Tujuannya bukan sekadar mengatur ekspor,
tetapi:
  • memperkuat devisa negara
  • menekan kebocoran ekonomi
  • meningkatkan transparansi perdagangan
  • serta membangun fondasi ekonomi nasional yang lebih kuat
Jika dijalankan secara profesional dan efisien,
kebijakan ini justru bisa menjadi sinyal positif bahwa Indonesia semakin serius membangun ekonomi modern yang stabil, terpercaya, dan berdaulat.




Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN








NEXT:

Kurangi Ketergantungan Impor: Saatnya Menyelidiki Dugaan Permainan Impor


PREV:

Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?

NEXT:

Kurangi Ketergantungan Impor: Saatnya Menyelidiki Dugaan Permainan Impor


PREV:

Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Ekonomi Indonesia :
  • Batam, Magnet Baru BRICS di Asia Tenggara dan Jalan Indonesia Menuju Raksasa Perdagangan Dunia
  • Di Balik Viral 32 Nama, Ada Pertanyaan Lebih Besar: Siapa Mengendalikan Proyek MBG?
  • Dolar Bakal Anjlok? Ini Tanda-Tanda yang Mulai Terlihat di Dunia
  • Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
  • Rupiah Tembus Rp17.967 per Dolar AS: Peran Investor SRBI dalam Mendorong Kenaikan Nilai Tukar
  • Seluruh Transaksi Wajib Pakai Rupiah: Bukan Sekadar Aturan, tetapi Pertaruhan Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • Mengapa Dolar Singapura Sering Muncul dalam Kasus Dugaan Suap Impor di Tanjung Priok?
  • RI STOP IMPOR LPG: Mimpi Besar Kedaulatan Energi atau Taruhan Ekonomi Nasional?
  • Jual Beli Dapur MBG Berujung Bui? Ketika Program untuk Anak Bangsa Tersandera Konflik Kepentingan
  • Mulai Terjadi! CNG Gantikan LPG di Rembang
  • Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
  • Percepatan 13 Proyek Hilirisasi: Langkah Indonesia Menuju Negara Industri Modern
  • Strategi Kilat Menaikkan Rupiah 15.000 Sebelum Akhir Tahun 2026
  • Prabowo Diam-Diam Siapkan 400 Calon Bos BUMN Masa Depan, Siapa Saja Orangnya?
  • Tata Kelola Ekspor Satu Pintu Mulai 1 Juni 2026, Pemerintah Tegaskan Tidak Ditunda
  • GARA GARA AMERIKA!
  • Prabowo Umumkan Skema Ekspor SDA Satu Pintu melalui BUMN, Ini Detailnya
  • Bagaimana Kalau Akhir Tahun 2026 Rupiah Menguat Menjadi Rp 10.500 per USD?
  • Danantara: Harapan Baru Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • BI Rate Naik Jadi 5,25%. Rupiah Menguat, Investor Mulai Melihat Indonesia Lebih Stabil
  • Kesimpulan Pidato Presiden Prabowo Subianto Hari Ini: Dugaan Permainan Ekspor Mulai Disorot
  • Kurangi Ketergantungan Impor: Saatnya Menyelidiki Dugaan Permainan Impor
  • Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN
  • Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?
  • Kenaikan Dolar Tidak Mempengaruhi Desa di Indonesia
  • Jika Jembatan Selat Sunda Benar-Benar Dibangun, Dampaknya Bisa Sangat Besar bagi Indonesia
  • Rupiah Melemah, Ekspor Menguat? Memahami Realita Ekonomi Indonesia
  • Faktor Penyebab Rupiah Melemah di Saat Ekonomi Indonesia Melesat Naik
  • Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan
  • Peta “Kebocoran Ekonomi” Paling Mahal di Indonesia
  • Harusnya Apa yang Perlu Dilakukan Bank Indonesia?
  • TIDAK ADA ALASAN UNTUK DEMO TURUN KE JALAN MEMPROTES PEMERINTAH
  • Surplus Perdagangan Tinggi, Mengapa Rasa Aman Belum Terbangun?
  • Bukan Soal Chaos—Tapi Soal Siapa yang Tumbang Lebih Dulu
  • Menyibak Visi dan Misi Sang Menkeu: Arah Kebijakan yang Menentukan Akhir Cerita Ekonomi Indonesia
  • Dunia Nyata - Ekonomi Internasional

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan