Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
☰
  • Home
  • Opini
  • Kuliah ▼
  • Publikasi ▼
  • SINTA
  • Scholar
  • About Me
  • Labuhan Batu
  • Login

View : 77 kali.

Bagikan:
Home > Opinion   Kategori: Ekonomi Indonesia
Selasa, 19 Mei 2026

Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Ilustrasi kondisi ekonomi saat inflasi dan deflasi bertemu di tengah melemahnya daya beli masyarakat
Ilustrasi kondisi ekonomi saat inflasi dan deflasi bertemu di tengah melemahnya daya beli masyarakat

Di dunia ekonomi modern, masyarakat sering diajarkan bahwa inflasi dan deflasi adalah dua kondisi yang saling berlawanan. Inflasi berarti harga naik, sedangkan deflasi berarti harga turun. Karena itu, banyak orang menganggap keduanya tidak mungkin terjadi secara bersamaan.

Namun realitas ekonomi global saat ini mulai menunjukkan fenomena yang lebih rumit. Dalam kondisi tertentu, inflasi dan deflasi justru dapat hadir pada waktu yang sama, tetapi di sektor dan lapisan masyarakat yang berbeda. Ketika itulah ekonomi memasuki fase yang membingungkan: uang terlihat banyak, tetapi tidak terasa di masyarakat bawah.

Inflasi Ada, Tetapi Konsumsi Melemah

Secara kasat mata, inflasi terlihat jelas:
  • harga makanan naik,
  • biaya pendidikan meningkat,
  • listrik dan energi mahal,
  • harga rumah terus melonjak,
  • emas dan aset investasi naik tinggi.
Namun di sisi lain, banyak pelaku usaha kecil justru mengeluh:
  • pembeli berkurang,
  • omzet turun,
  • masyarakat menahan belanja,
  • toko mulai sepi,
  • kelas menengah mulai berhitung ketat.
Inilah titik di mana inflasi dan deflasi tampak berjalan bersama.

Harga-harga naik, tetapi kemampuan membeli melemah.

Uang Tidak Hilang, Tetapi Berpindah Lapisan


Fenomena ini sebenarnya bukan berarti uang hilang dari sistem ekonomi. Uang tetap ada, bahkan jumlahnya bisa bertambah. Yang berubah adalah arah perputarannya.

Uang lebih banyak berputar:
  • di pasar modal,
  • investasi besar,
  • aset premium,
  • perusahaan raksasa,
  • dan kelompok masyarakat atas.
Sementara di sektor bawah:
  • transaksi melambat,
  • daya beli melemah,
  • kredit macet meningkat,
  • usaha kecil mulai kesulitan bertahan.
Akibatnya muncul "ekonomi dua lapis”:
  • ekonomi atas terlihat hidup,
  • ekonomi bawah terasa stagnan.
Mal premium tetap ramai, tetapi pasar tradisional sepi.
Harga properti mewah naik, tetapi kontrakan sederhana sulit terisi.
Saham tertentu melonjak, tetapi pedagang kecil kehilangan pelanggan.

Mengapa Ini Bisa Terjadi?

Ada beberapa faktor yang membuat inflasi dan deflasi dapat muncul bersamaan.

1. Konsentrasi Kekayaan


Semakin besar uang terkumpul pada kelompok kecil, semakin kecil uang beredar di masyarakat luas. Akibatnya, ekonomi atas tetap bergerak, tetapi konsumsi massal melemah.

2. Suku Bunga Tinggi


Saat bank sentral menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, pinjaman menjadi mahal. Dunia usaha menahan ekspansi, masyarakat mengurangi kredit, dan konsumsi melambat.

3. Harga Global Naik


Banyak negara masih bergantung pada impor:
energi,
pangan,
bahan baku,
teknologi.

Ketika dolar menguat atau geopolitik dunia memanas, harga impor naik. Akibatnya inflasi terjadi walaupun ekonomi domestik sebenarnya sedang melemah.

4. Perubahan Pola Ekonomi Digital

Ekonomi digital cenderung membuat keuntungan terkonsentrasi pada platform besar. Perputaran uang menjadi tidak merata. Sebagian sektor tumbuh sangat cepat, sementara sektor tradisional tertinggal.

Bahaya yang Sering Tidak Disadari

Kondisi ini berbahaya karena tidak langsung terlihat seperti krisis besar. Tidak ada keruntuhan mendadak seperti tahun 1998. Namun tekanan berlangsung perlahan:
  • tabungan masyarakat terkuras,
  • kelas menengah melemah,
  • UMKM kehilangan napas,
  • pengangguran terselubung meningkat.
Secara psikologis, masyarakat mulai merasa:

"Harga naik terus, tetapi uang terasa makin sedikit.”

Jika berlangsung lama, dampaknya bisa meluas:
  • ketimpangan sosial meningkat,
  • konsumsi nasional melemah,
  • pertumbuhan ekonomi menjadi semu,
  • dan stabilitas sosial mulai terganggu.
Apakah Ini Sudah Terjadi?

Dalam banyak aspek, gejalanya mulai terlihat di berbagai negara dunia. Setelah pandemi global, dunia menghadapi:
  • kenaikan utang,
  • suku bunga tinggi,
  • perang geopolitik,
  • gangguan rantai pasok,
  • dan perlambatan ekonomi global.
Akibatnya muncul situasi yang unik:

inflasi belum sepenuhnya turun,
tetapi pertumbuhan ekonomi mulai melambat.

Beberapa ekonom menyebutnya sebagai fase transisi menuju ekonomi yang lebih terpolarisasi.

Apa yang Bisa Menjadi Solusi?

Tidak ada solusi instan, tetapi beberapa hal penting perlu dijaga:

daya beli masyarakat,
lapangan kerja produktif,
distribusi kredit ke sektor riil,
penguatan UMKM,
dan stabilitas pangan serta energi.

Ekonomi yang sehat bukan hanya tentang tingginya angka pertumbuhan, tetapi tentang seberapa luas manfaat pertumbuhan itu dirasakan masyarakat.

Karena pada akhirnya, ekonomi bukan sekadar angka di layar komputer atau grafik pertumbuhan. Ekonomi adalah tentang apakah masyarakat masih mampu hidup dengan layak, bekerja dengan tenang, dan memiliki harapan terhadap masa depan.

Penutup

Jika inflasi dan deflasi benar-benar "bertemu”, yang sebenarnya terjadi bukanlah paradoks, melainkan perubahan arah perputaran uang dalam sistem ekonomi.

Harga bisa terus naik, tetapi konsumsi masyarakat tetap melemah.
Uang bisa terlihat banyak, tetapi hanya berputar di lapisan tertentu.
Ekonomi bisa tampak tumbuh, tetapi tidak dirasakan semua orang.

Dan mungkin, inilah tantangan ekonomi terbesar zaman modern:
bagaimana menjaga agar pertumbuhan tidak hanya terjadi di atas, tetapi tetap mengalir sampai ke bawah.


Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?








NEXT:

Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN


PREV:

Kenaikan Dolar Tidak Mempengaruhi Desa di Indonesia

NEXT:

Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN


PREV:

Kenaikan Dolar Tidak Mempengaruhi Desa di Indonesia

Murdan Sianturi, S.Kom., M.Kom., adalah dosen dan penulis opini yang mengajar Bisnis Digital dan Akuntansi di STIE Mulia Pratama Bekasi. Ia aktif menulis tentang teknologi, perubahan sosial, geopolitik, dan refleksi iman di tengah dinamika dunia modern.
About me selengkapnya...




Ekonomi Indonesia :
  • Batam, Magnet Baru BRICS di Asia Tenggara dan Jalan Indonesia Menuju Raksasa Perdagangan Dunia
  • Di Balik Viral 32 Nama, Ada Pertanyaan Lebih Besar: Siapa Mengendalikan Proyek MBG?
  • Dolar Bakal Anjlok? Ini Tanda-Tanda yang Mulai Terlihat di Dunia
  • Indonesia–Filipina Pilih Barter: Mengurangi Ketergantungan pada Dolar
  • Rupiah Tembus Rp17.967 per Dolar AS: Peran Investor SRBI dalam Mendorong Kenaikan Nilai Tukar
  • Seluruh Transaksi Wajib Pakai Rupiah: Bukan Sekadar Aturan, tetapi Pertaruhan Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • Mengapa Dolar Singapura Sering Muncul dalam Kasus Dugaan Suap Impor di Tanjung Priok?
  • RI STOP IMPOR LPG: Mimpi Besar Kedaulatan Energi atau Taruhan Ekonomi Nasional?
  • Jual Beli Dapur MBG Berujung Bui? Ketika Program untuk Anak Bangsa Tersandera Konflik Kepentingan
  • Mulai Terjadi! CNG Gantikan LPG di Rembang
  • Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
  • Percepatan 13 Proyek Hilirisasi: Langkah Indonesia Menuju Negara Industri Modern
  • Strategi Kilat Menaikkan Rupiah 15.000 Sebelum Akhir Tahun 2026
  • Prabowo Diam-Diam Siapkan 400 Calon Bos BUMN Masa Depan, Siapa Saja Orangnya?
  • Tata Kelola Ekspor Satu Pintu Mulai 1 Juni 2026, Pemerintah Tegaskan Tidak Ditunda
  • GARA GARA AMERIKA!
  • Prabowo Umumkan Skema Ekspor SDA Satu Pintu melalui BUMN, Ini Detailnya
  • Bagaimana Kalau Akhir Tahun 2026 Rupiah Menguat Menjadi Rp 10.500 per USD?
  • Danantara: Harapan Baru Kedaulatan Ekonomi Indonesia
  • BI Rate Naik Jadi 5,25%. Rupiah Menguat, Investor Mulai Melihat Indonesia Lebih Stabil
  • Kesimpulan Pidato Presiden Prabowo Subianto Hari Ini: Dugaan Permainan Ekspor Mulai Disorot
  • Kurangi Ketergantungan Impor: Saatnya Menyelidiki Dugaan Permainan Impor
  • Prabowo Perkuat Tata Kelola Ekspor Nasional Lewat BUMN
  • Jika Inflasi dan Deflasi Bertemu: Apa Sebenarnya yang Terjadi?
  • Kenaikan Dolar Tidak Mempengaruhi Desa di Indonesia
  • Jika Jembatan Selat Sunda Benar-Benar Dibangun, Dampaknya Bisa Sangat Besar bagi Indonesia
  • Rupiah Melemah, Ekspor Menguat? Memahami Realita Ekonomi Indonesia
  • Faktor Penyebab Rupiah Melemah di Saat Ekonomi Indonesia Melesat Naik
  • Rupiah Tidak Takut 1998---Ia Takut Kita Kehilangan Kepercayaan
  • Peta “Kebocoran Ekonomi” Paling Mahal di Indonesia
  • Harusnya Apa yang Perlu Dilakukan Bank Indonesia?
  • TIDAK ADA ALASAN UNTUK DEMO TURUN KE JALAN MEMPROTES PEMERINTAH
  • Surplus Perdagangan Tinggi, Mengapa Rasa Aman Belum Terbangun?
  • Bukan Soal Chaos—Tapi Soal Siapa yang Tumbang Lebih Dulu
  • Menyibak Visi dan Misi Sang Menkeu: Arah Kebijakan yang Menentukan Akhir Cerita Ekonomi Indonesia
  • Dunia Nyata - Ekonomi Internasional

Pencarian E-DDC 23
Electronic Dewey Decimal Classification untuk Perpustakaan