View : 112 kali.
Home >
Opinion
Kategori: Ekonomi Indonesia
Sabtu, 30 Mei 2026

Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif baik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, sektor perbankan stabil, dan investasi terus mengalir ke berbagai sektor strategis. Kondisi ini menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Salah satu langkah yang diharapkan dapat memperkuat rupiah adalah optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dengan semakin banyak devisa yang ditempatkan di dalam negeri, likuiditas valuta asing di pasar domestik dapat meningkat sehingga membantu menjaga stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, upaya pemerintah dalam memperluas hilirisasi industri juga berpotensi meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Namun demikian, penguatan rupiah tidak dapat bergantung pada kebijakan pemerintah semata. Dunia usaha perlu terus meningkatkan daya saing produk nasional agar mampu menembus pasar internasional dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi melalui peningkatan produktivitas, dukungan terhadap produk dalam negeri, serta penguatan budaya ekonomi yang berorientasi pada penciptaan nilai.
Yang sering terlupakan adalah bahwa nilai tukar juga dipengaruhi oleh faktor kepercayaan. Investor dan pelaku pasar tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga memperhatikan stabilitas politik, konsistensi kebijakan, kualitas tata kelola pemerintahan, dan arah pembangunan jangka panjang suatu negara. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha merupakan bagian penting dari strategi penguatan rupiah.
Tentu saja, target Rp15.000 per dolar as tidak bebas dari tantangan. Perkembangan suku bunga global, kondisi geopolitik internasional, pergerakan harga komoditas dunia, serta dinamika pasar keuangan internasional akan tetap memengaruhi pergerakan nilai tukar. Karena itu, target tersebut perlu dipandang sebagai sasaran yang ingin dicapai melalui kerja keras dan koordinasi berbagai pihak, bukan sebagai jaminan hasil yang pasti.
Meski demikian, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menetapkan tujuan dan bekerja bersama untuk mencapainya. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang kuat, posisi strategis di kawasan Asia, serta bonus demografi yang menjadi modal pembangunan jangka panjang. Dengan pengelolaan yang tepat, seluruh potensi tersebut dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi nasional dan stabilitas rupiah.
Pada akhirnya, nilai tukar yang kuat bukanlah tujuan akhir, melainkan cerminan dari ekonomi yang sehat, produktif, dan dipercaya dunia. Jika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu bergerak dalam satu arah yang sama, maka target penguatan rupiah menuju Rp15.000 per dolar as bukan sekadar harapan, melainkan sebuah cita-cita yang layak diperjuangkan bersama.
Referensi
Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
Sabtu, 30 Mei 2026
Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan

Ilustrasi rupiah menguat terhadap dolar AS dengan latar grafik pertumbuhan ekonomi Indonesia dan bendera Merah Putih.
Oleh Murdan Sianturi, S.Kom, M.Kom
Ketika sebagian negara masih bergulat dengan perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global, Indonesia justru memasang target yang cukup ambisius: mengembalikan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp15.000 per dolar as mulai Juni 2026. Target ini tentu tidak boleh dipandang sekadar sebagai angka, melainkan sebagai cerminan keyakinan bahwa fondasi ekonomi nasional memiliki kekuatan untuk menghadapi tekanan eksternal. Dengan pengelolaan kebijakan yang tepat dan dukungan seluruh pelaku ekonomi, optimisme terhadap penguatan rupiah bukanlah sesuatu yang berlebihan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif baik dibandingkan banyak negara berkembang lainnya. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi terkendali, sektor perbankan stabil, dan investasi terus mengalir ke berbagai sektor strategis. Kondisi ini menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Salah satu langkah yang diharapkan dapat memperkuat rupiah adalah optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Dengan semakin banyak devisa yang ditempatkan di dalam negeri, likuiditas valuta asing di pasar domestik dapat meningkat sehingga membantu menjaga stabilitas nilai tukar. Di sisi lain, upaya pemerintah dalam memperluas hilirisasi industri juga berpotensi meningkatkan nilai tambah ekspor Indonesia dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah.
Namun demikian, penguatan rupiah tidak dapat bergantung pada kebijakan pemerintah semata. Dunia usaha perlu terus meningkatkan daya saing produk nasional agar mampu menembus pasar internasional dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Sementara itu, masyarakat dapat berkontribusi melalui peningkatan produktivitas, dukungan terhadap produk dalam negeri, serta penguatan budaya ekonomi yang berorientasi pada penciptaan nilai.
Yang sering terlupakan adalah bahwa nilai tukar juga dipengaruhi oleh faktor kepercayaan. Investor dan pelaku pasar tidak hanya melihat data ekonomi, tetapi juga memperhatikan stabilitas politik, konsistensi kebijakan, kualitas tata kelola pemerintahan, dan arah pembangunan jangka panjang suatu negara. Oleh karena itu, menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha merupakan bagian penting dari strategi penguatan rupiah.
Tentu saja, target Rp15.000 per dolar as tidak bebas dari tantangan. Perkembangan suku bunga global, kondisi geopolitik internasional, pergerakan harga komoditas dunia, serta dinamika pasar keuangan internasional akan tetap memengaruhi pergerakan nilai tukar. Karena itu, target tersebut perlu dipandang sebagai sasaran yang ingin dicapai melalui kerja keras dan koordinasi berbagai pihak, bukan sebagai jaminan hasil yang pasti.
Meski demikian, bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menetapkan tujuan dan bekerja bersama untuk mencapainya. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, pasar domestik yang kuat, posisi strategis di kawasan Asia, serta bonus demografi yang menjadi modal pembangunan jangka panjang. Dengan pengelolaan yang tepat, seluruh potensi tersebut dapat menjadi fondasi bagi penguatan ekonomi nasional dan stabilitas rupiah.
Pada akhirnya, nilai tukar yang kuat bukanlah tujuan akhir, melainkan cerminan dari ekonomi yang sehat, produktif, dan dipercaya dunia. Jika pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat mampu bergerak dalam satu arah yang sama, maka target penguatan rupiah menuju Rp15.000 per dolar as bukan sekadar harapan, melainkan sebuah cita-cita yang layak diperjuangkan bersama.
Referensi
- Purbaya Yudhi Sadewa. Pernyataan mengenai target penguatan rupiah ke kisaran Rp15.000 per dolar as melalui optimalisasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), Mei 2026.
- Liputan6.com. "Purbaya Target Rupiah Balik ke 15.000 per dolar as Pakai Cara Ini." Mei 2026.
- JawaPos.com. "Purbaya Minta Pemain Valas Jual Dolar, Yakin Rupiah Bisa Menguat ke Rp15.000 pada Juni 2026." Mei 2026.
- Tangsel Pos. "Purbaya Yakin Rupiah Menguat Juni 2026, Ditargetkan Kembali ke Rp15.000 per dolar as." Mei 2026.
- Data makroekonomi Indonesia: pertumbuhan ekonomi, inflasi, cadangan devisa, dan kebijakan hilirisasi industri yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.
Rupiah Kuat, Indonesia Hebat: Mengapa Target Rp15.000 Layak Diperjuangkan
NEXT:
PSG Juara Liga Champions! Arsenal Tumbang Dramatis Lewat Adu Penalti
PREV:
