View : 64 kali.
Minggu, 02 Maret 2025
Perang Harga di SPBU

Di sebuah kota kecil yang tenang, tiba-tiba heboh. Tanggal 2 Maret 2025, harga bbm berubah. pertamina, si raja spbu, malah menurunkan harga. Sementara itu, shell, bp, dan vivo kompak menaikkan harga. Warga pun bingung, tapi ada satu hal yang pasti: ini bakal jadi hari yang seru.
Pak Budi, seorang sopir angkot legendaris, dengan ceria mengantre di spbu pertamina. "Alhamdulillah, harga turun! Ini rezeki nomplok!" katanya sambil tersenyum lebar. Dia pun memesan premium sebanyak mungkin. "Isi full tank, Bang! Sekalian bawa jerigen buat cadangan!"
Si penjaga spbu hanya geleng-geleng. "Ini bbm, Pak, bukan air mineral. Jangan sampai diminum, ya."
Tak jauh dari sana, di spbu shell, Bu Marni, tetangga Pak Budi, sedang merengek. "Kenapa naik sih? Baru kemarin beli baju lebaran, sekarang bbm naik lagi!"
Si petugas spbu cuma bisa nyengir. "Ibu, ini harga global. Kita cuma ikutin pasar. Kalau mau murah, silakan ke pertamina sebelah."
Bu Marni langsung melotot. "Jauh, dong! Ini kan lagi buru-buru mau arisan!"
Sementara itu, di spbu bp, seorang mahasiswa bernama Rian sedang bingung. Dia baru saja melihat harga di papan digital. "Loh, kok naik? Padahal dompet tipis nih."
Teman sebelahnya, Andi, cuma ketawa. "Ya udah, pake sepeda aja. Sekalian olahraga, hemat bbm, hemat uang!"
Rian cemberut. "Tapi sepedaku udah jadi besi tua, Bro. Kena hujan terus, karatan."
Di spbu vivo, seorang pengusaha muda bernama Dito sedang marah-marah. "Ini mahal banget! Padahal aku kan cuma mau isi buat mobil mewahku biar keliatan keren!"
Si petugas spbu cuma nyengir. "Kalau mau keren, pakai mobil listrik aja, Pak. Sekalian ikut tren."
Dito langsung melotot. "Mobil listrik mah belum ada stasiun pengisiannya di sini. Lagian, aku kan pengennya yang bising biar keliatan gagah!"
Adegan 5: Pertemuan Tak Terduga
Kebetulan, Pak Budi, Bu Marni, Rian, dan Dito bertemu di warung kopi dekat spbu. Mereka pun saling curhat.
Pak Budi: "Aku sih seneng harga pertamina turun. Bisa hemat buat jajan bakso."
Bu Marni: "Aku mah kesel. shell mahal banget! Padahal arisan aku harus datang pake mobil."
Rian: "Aku mah bingung. Uang pas-pasan, bbm naik. Mau pake sepeda, sepedanya rusak."
Dito: "Aku sih pengennya tetep pake mobil mewah. Tapi bbm mahal, jadi bingung juga."
Mereka pun sepakat untuk mencari solusi. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bergantian pakai mobil Pak Budi yang irit bbm. Bu Marni bisa ikut arisan, Rian bisa kuliah tanpa bingung ongkos, dan Dito tetap bisa pamer mobil mewah... meski cuma numpang.
Epilog: Damai di Negeri bbm
Sejak itu, mereka jadi sering nongkrong bareng di warung kopi sambil ngobrolin harga bbm. Kadang mereka tertawa, kadang mereka mengeluh, tapi yang pasti, mereka selalu punya cerita lucu untuk dibagi.
Dan begitulah, di tengah naik-turunnya harga bbm, persahabatan mereka justru semakin naik. Karena, di dunia yang serba mahal ini, yang paling berharga tetaplah teman dan secangkir kopi hangat.
Perang Harga di SPBU
NEXT:
Ganjil-Genap: Misi Pak Budi Menghindari Polisi
PREV:
