View : 181 kali.
Home >
Cerpen Pak Murdan
Kategori: Cerpen
Selasa, 25 Februari 2025
Elon Musk dan Rapture yang Tertunda
Selasa, 25 Februari 2025
Elon Musk dan Rapture yang Tertunda
Suatu hari, di markas SpaceX, Elon Musk sedang sibuk memeriksa desain roket terbarunya yang akan membawa manusia ke Mars. Tiba-tiba, langit terbelah, dan suara trompet malaikat menggema ke seluruh dunia. Semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus mulai terangkat ke langit dalam peristiwa yang dikenal sebagai Rapture.
Elon, yang baru saja menjadi Kristen setelah penemuan gulungan kitab kuno berusia 2200 tahun sebelum Yesus lahir (yang ternyata memprediksi kedatangan Mesias dengan sangat akurat), sedang asyik mengutak-atik prototipe roketnya. Malaikat Gabriel muncul di depannya dengan sayap berkilauan dan berkata, "Elon Musk, waktunya telah tiba. Mari, ikutlah terangkat ke surga!"
Elon menoleh, matanya masih tertuju pada layar komputer. "Eh, tunggu dulu. Saya belum selesai nih. Proyek Mars saya belum dimulai. Gimana nih kalo saya diangkat sekarang? Siapa yang akan melanjutkan misi ini?"
Malaikat Gabriel mengernyitkan dahi. "Tapi, Elon, ini Rapture. Semua orang percaya harus diangkat. Tidak ada pengecualian."
Elon menghela napas. "Gabriel, kamu ngerti nggak sih? Saya punya visi untuk menyelamatkan umat manusia dengan membawa mereka ke Mars. Kalau saya diangkat sekarang, siapa yang akan memimpin kolonisasi Mars? SpaceX akan kacau balau!"
Gabriel tampak bingung. "Tapi, ini perintah dari Tuhan, Elon. Kamu tidak bisa menolak."
Elon mengangkat tangan, "Tunggu, tunggu. Gimana kalau kita nego? Saya minta waktu satu tahun saja. Setelah proyek Mars berjalan, saya akan ikut diangkat. Deal?"
Gabriel menggeleng-gelengkan kepala. "Elon, kamu ini lucu sekali. Tuhan tidak bisa dinego, tahu?"
Elon tersenyum licik. "Tapi, Gabriel, kamu lupa satu hal: saya ini Elon Musk. Saya sudah berhasil nego dengan NASA, pemerintah, dan bahkan para investor yang paling pelit. Saya yakin Tuhan akan mengerti."
Gabriel terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. "Baiklah, saya akan menyampaikan permintaanmu ke Tuhan. Tapi jangan harap Dia setuju."
Beberapa menit kemudian, Gabriel kembali dengan ekspresi heran. "Elon, Tuhan bilang... Dia memberimu waktu enam bulan. Tapi setelah itu, kamu harus ikut diangkat. Tidak ada tawar-menawar lagi."
Elon tersenyum lega. "Sempurna! Enam bulan cukup untuk meluncurkan prototipe pertama. Terima kasih, Gabriel. Oh, sampaikan salam saya ke Tuhan, ya!"
Gabriel menggeleng-geleng sambil terbang kembali ke langit. "Elon Musk, kamu benar-benar satu-satunya orang yang berani menunda Rapture."
Selama enam bulan berikutnya, Elon bekerja tanpa henti. Dia meluncurkan roket, mengirim tim ke Mars, dan bahkan sempat membuat tweet lucu tentang bagaimana dia "hampir ketinggalan tiket ke surga". Akhirnya, tepat di hari terakhir tenggat waktu, Elon menyelesaikan proyeknya. Dia berdiri di depan kamera, mengenakan jas astronot, dan berkata, "Oke, Tuhan, saya siap sekarang. Bisa diangkat kapan saja."
Tiba-tiba, langit kembali terbelah, dan Elon mulai terangkat ke atas. Tapi, sebelum dia benar-benar hilang, dia sempat berteriak, "Eh, tunggu! Saya lupa matiin WiFi di rumah!"
Malaikat Gabriel yang sedang mengawasi dari atas hanya bisa mengelus dada. "Elon Musk, bahkan di akhir zaman pun kamu masih mikirin WiFi."
Dan begitulah, Elon Musk akhirnya terangkat ke surga, meninggalkan warisan kolonisasi Mars dan cerita lucu tentang bagaimana dia hampir ketinggalan Rapture karena proyeknya. Di surga, dia bahkan sempat bertanya pada Petrus, "Hey, ada sinyal WiFi di sini nggak?"
Moral cerita: Visi dan dedikasi itu penting, tapi jangan sampai ketinggalan tiket ke surga karena terlalu sibuk dengan proyek duniawi. Dan ya, Elon Musk tetap Elon Musk, bahkan di akhir zaman!
****
Elon, yang baru saja menjadi Kristen setelah penemuan gulungan kitab kuno berusia 2200 tahun sebelum Yesus lahir (yang ternyata memprediksi kedatangan Mesias dengan sangat akurat), sedang asyik mengutak-atik prototipe roketnya. Malaikat Gabriel muncul di depannya dengan sayap berkilauan dan berkata, "Elon Musk, waktunya telah tiba. Mari, ikutlah terangkat ke surga!"
Elon menoleh, matanya masih tertuju pada layar komputer. "Eh, tunggu dulu. Saya belum selesai nih. Proyek Mars saya belum dimulai. Gimana nih kalo saya diangkat sekarang? Siapa yang akan melanjutkan misi ini?"
Malaikat Gabriel mengernyitkan dahi. "Tapi, Elon, ini Rapture. Semua orang percaya harus diangkat. Tidak ada pengecualian."
Elon menghela napas. "Gabriel, kamu ngerti nggak sih? Saya punya visi untuk menyelamatkan umat manusia dengan membawa mereka ke Mars. Kalau saya diangkat sekarang, siapa yang akan memimpin kolonisasi Mars? SpaceX akan kacau balau!"
Gabriel tampak bingung. "Tapi, ini perintah dari Tuhan, Elon. Kamu tidak bisa menolak."
Elon mengangkat tangan, "Tunggu, tunggu. Gimana kalau kita nego? Saya minta waktu satu tahun saja. Setelah proyek Mars berjalan, saya akan ikut diangkat. Deal?"
Gabriel menggeleng-gelengkan kepala. "Elon, kamu ini lucu sekali. Tuhan tidak bisa dinego, tahu?"
Elon tersenyum licik. "Tapi, Gabriel, kamu lupa satu hal: saya ini Elon Musk. Saya sudah berhasil nego dengan NASA, pemerintah, dan bahkan para investor yang paling pelit. Saya yakin Tuhan akan mengerti."
Gabriel terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu. "Baiklah, saya akan menyampaikan permintaanmu ke Tuhan. Tapi jangan harap Dia setuju."
Beberapa menit kemudian, Gabriel kembali dengan ekspresi heran. "Elon, Tuhan bilang... Dia memberimu waktu enam bulan. Tapi setelah itu, kamu harus ikut diangkat. Tidak ada tawar-menawar lagi."
Elon tersenyum lega. "Sempurna! Enam bulan cukup untuk meluncurkan prototipe pertama. Terima kasih, Gabriel. Oh, sampaikan salam saya ke Tuhan, ya!"
Gabriel menggeleng-geleng sambil terbang kembali ke langit. "Elon Musk, kamu benar-benar satu-satunya orang yang berani menunda Rapture."
Selama enam bulan berikutnya, Elon bekerja tanpa henti. Dia meluncurkan roket, mengirim tim ke Mars, dan bahkan sempat membuat tweet lucu tentang bagaimana dia "hampir ketinggalan tiket ke surga". Akhirnya, tepat di hari terakhir tenggat waktu, Elon menyelesaikan proyeknya. Dia berdiri di depan kamera, mengenakan jas astronot, dan berkata, "Oke, Tuhan, saya siap sekarang. Bisa diangkat kapan saja."
Tiba-tiba, langit kembali terbelah, dan Elon mulai terangkat ke atas. Tapi, sebelum dia benar-benar hilang, dia sempat berteriak, "Eh, tunggu! Saya lupa matiin WiFi di rumah!"
Malaikat Gabriel yang sedang mengawasi dari atas hanya bisa mengelus dada. "Elon Musk, bahkan di akhir zaman pun kamu masih mikirin WiFi."
Dan begitulah, Elon Musk akhirnya terangkat ke surga, meninggalkan warisan kolonisasi Mars dan cerita lucu tentang bagaimana dia hampir ketinggalan Rapture karena proyeknya. Di surga, dia bahkan sempat bertanya pada Petrus, "Hey, ada sinyal WiFi di sini nggak?"
Moral cerita: Visi dan dedikasi itu penting, tapi jangan sampai ketinggalan tiket ke surga karena terlalu sibuk dengan proyek duniawi. Dan ya, Elon Musk tetap Elon Musk, bahkan di akhir zaman!
****
Elon Musk dan Rapture yang Tertunda
NEXT:
Minyak, Beruang, dan Rambut Emas
PREV:
